Wednesday 08th of September 2010
Home
Selamat Membaca
|
|
|
Wednesday, 01 April 2009 22:12 |
|
Ulil Abshar Abdalla Kenapa nasib teknokrat di mana-mana hampir sama -- tidak populer, dibenci para politisi, dianggap tidak pro-rakyat, antek-asing, dan sebagainya, dan sebagainya? Kasus Indonesia adalah contoh yang sangat baik. Mula-mula, kehadiran teknokrat di awal Orde Baru, terutama tahun-tahun pertama setelah Suharto menerima "kekuasaan" dari Bung Karno untuk --konon-- "memulihkan" keadaan, banyak dipuji oleh beberapa pihak. Hingga menjelang pemilu pertama 1971, mereka masih dianggap sebagai (istilah zaman itu) "orang kita" oleh para demonstran 66. |
|
Last Updated on Saturday, 04 April 2009 04:36 |
|
Read more...
|
|
|
Setelah Habib Tiada: Waktu, Kebangsaan & Pluralitas |
|
|
|
|
Friday, 27 March 2009 05:46 |
|
Oleh Ismail F. Alatas Habib menutup mata beberapa bulan silam. Canda tawanya tak lagi terdengar. Tubuh direbahkan di ruang depan, dikelilingi rak-rak tanpa debu. Buku-buku terlihat rapi menghiasi ruangan dimana jenazah disemayamkan. Ruangan itu, adalah titik persimpangan waktu. Tempat berseterunya beberapa tempo dan narasi. Ruang-ruang di dalam ruangan. Semua berkumpul membentuk dinamika warna-warni tanpa keseragaman. Yang ada hanyalah multiplisitas suara keragaman. Dan ruangan itu menjadi monumen memori dan ingatan terlupakan. |
|
Last Updated on Friday, 27 March 2009 05:49 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
Page 12 of 14 |
Humor Kita
Sumber Pustaka
msnbc.com Video Player
Powered by Copy Right KNU-ASK 2008.