Wednesday 08th of September 2010
Opini
|
Politik Sebagai Dunia Gaib |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 18 August 2010 05:50 |
|
Oleh Achmad Munjid Sejak kecil, saya memahami arena politik (praktis) sebagai dunia gaib, dunia wingit, dunia yang angker dan penuh misteri. Dari kampung kami yang kecil, apa yang terjadi di pusat kekuasaan, dari tingkat kelurahan hingga ibu kota negara nun jauh di sana , yang bisa kami tangkap hanyalah kelebatnya saja. Kadang ada yang bisa kami pahami nalarnya. Sebagian besar, tidak. Betapapun, lewat orang-orang ‘pintar’, kami tetap melakukan interaksi yang aman dengan dunia itu. Kami menyadari bahwa dunia gaib itu ada. Ada pengaruh timbal balik yang tak terhindarkan. Tapi, biar tidak menambah persoalan hidup kami sebagai orang kecil yang sudah kelewat pelik dan berat dari hari ke hari, kami menjaga agar hubungan kami dengan dunia itu bersifat secukupnya saja. |
|
Read more...
|
|
|
Melindungi Perempuan atau Menjaga Kedaulatan? |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 12 May 2010 07:10 |
|
Oleh Nuning Hallett Harian Kompas, 12 Februari 2010, memuat berita tentang Program Legislasi Nasional 2010 yang salah satunya akan membahas draf Rancangan Undang- Undang tentang Hukum Materiil Peradilan Agama Bidang Perkawinan. Disebutkan, Pasal 142 Ayat 3 mengatur perkawinan campuran yang mengharuskan pria WNA memberi jaminan Rp 500 juta jika hendak menikahi perempuan WNI. Tahun 2005, Mahkamah Agung (MA) pernah melontarkan wacana ini yang kemudian ditolak dengan tegas oleh aktivis perempuan. Alih-alih mempertimbangkan keberatan tersebut, MA justru memunculkan deposit Rp 500 juta dalam draf RUU ini. Bagian penjelasan Pasal 142 Ayat 3 draf RUU HMPAP menyebutkan, jaminan untuk melindungi perempuan jika ditelantarkan suami WNA-nya. Jaminan akan dikembalikan jika usia perkawinan mereka mencapai 10 tahun. |
|
Read more...
|
|
|
NU dan “Politik Kerakyatan” |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 22 April 2010 11:49 |
|
Oleh Sumanto Al Qurtuby Pada tanggal 22-27 Maret 2010, NU kembali akan menggelar hajat besar, yakni Muktamar yang akan berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan. Hajat yang akan digelar oleh ormas Islam terbesar di Indonesia ini tidak hanya akan memilih Ra’is ‘Am dan Ketua Umum PBNU yang baru melainkan juga membahas sejumlah agenda penting menyangkut masalah sosial-keagamaan, keumatan dan kebangsaan yang menjadi problem NU, bangsa, dan negara ini. Dalam kesempatan ini saya ingin mengusulkan agar dalam muktamar kali ini para pengurus dan aktor NU memperhatikan secara serius masalah kultural-keumatan dan menghentikan aktivitas politik praktis kekuasaan seperti yang selama ini dengan getol dilakukan oleh Ketum PBNU, H. Hazim Muzadi dan para pendukungnya. |
|
Last Updated on Friday, 18 June 2010 16:23 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
Page 1 of 23 |
Humor Kita
Sumber Pustaka
msnbc.com Video Player
Powered by Copy Right KNU-ASK 2008.